Posted by: asriyanto | Friday, January 2, 2009

Selamat datang tahun 2009

Curahan Hatiku Menjelang Terompet Tahun 2009

Detik-detik menentukan pergantian tahun mewarnai hiruk pikuk kegemerlapan dunia, pergantian tahun mengganti tahun yang lama, adakah warnanya bagiku, adakah maknanya bagikhu. Kulantungkan bahwa semuanya sama saja dan tiada memiliki perubahan kecuali jam berganti dengan pergeseran menuju waktu jam yang lain, menit menyongsong menitnya, dan demikianpula dentuman detiknya. Dua belas bulan telah berlalu, 365 hari telah terlewati siang dan malam hari, dan berapa juta kali, berapa milyar kali dentuman detiknya berputar pada porosnya tanpa ada pergeseran perubahan pada keteraturan yang ditentukan.

Hari ini pemahamanku kian pudar memaknai hidup, semakin kabur menjalani dan mengarungi kehidupan, kupandangi dan kurelungi makna-makna itu namun yang kudapati hanya bayang-bayang kemelaratan yang menggeluti sebagaimana Soekarno termasyhur dalam penjaranya, sebagaimana kehidupan pembuangan Soekarno di Endeh Flores. Kemelaratan yang kian membayangi dan memuakkan. Ya Allahku, tempat kusandarkan kecintaanku yang utama, aku sadar telah begitu jauh meninggalkan pelaporanku kepadaMu dalam memangsa rejekimu yang tertitip kepadaku dan terkadang pula melupakan sebutan kasih sayangMu dalam melakukan kativitas-aktivitasku. Aku bukanlah manusia tanpa harapan, aku bukanlah manusia yang berputus asa, dan aku bukanlah manusia yang lemah namun kebesaranMu, sungguh dan sesungguhnya kupandangi gunung Himalaya tiada menyamai kesungguhan akan keyakinan kebesaranMu. Dipenghujung tahun ini, akan dimulai tahun yang baru sebagaimana kawanku mengirimi guna kuingati bahwasanya “after went through one hell of a year, you have earn your self another round, not start over but to continue in better ways, Happy New Yeras 2009” ataupun ungkapan lain yang menandai  pergantian dan berlalunya waktu, diawal tahun ini, kuingin Engkau bermurah kepadaku sebagaimana sifatMu yang Maha Pemurah, dan sangat kuinginkan sifat Maha Pengasihmu menjalar keseluruh tubuhku melalui pembuluh-pembuluh darahku dan setiap hembusan nafasku yang terhirup, keinginanku sebgaimana manusia kebanyakan, kuberharap ada secercah bagiku harapan-harapan nan kian mendukungku, ada secercah harapan mengubah hidupku.

Ya Allahku, sepenggal ungkapan ini kukirimkan kepadaMu, sebagaimana pertobatan yang ingin kulakukan, Ya Muhammad Nabi dan Rasulku kutidak mendapatimu hidup dalam zamanku, namun keabadian nama dan perangaimu tetaplah menjadi pegangan kaumku si Islam. Ya Allahku, dunia ciptanMu telah beringsut terkungkung, terisak tangis bumi, akan perlakuan yang diterimanya atas nama pengakuan keberadaan falsafah antroposentrisme, kapitalisme bole berkuasa, imprealismepun boleh ikut menjadi sebuah Juggernaut raksasa menghantam zaman ini, ia boleh saja menjadi simbol besar perubahan sosial. Ketidakberdayaan menghadapinya telah ada dan tertanam rapat dalam kepalaku, terbenam dalam sedalam menggali pasir di gurun pasir Sahara, jangankan pula terbesit di kepalaku enuntuk melawannya merubah diriku saja belumlah kutemukan sementara usiaku semakin memasuki usia ketuaan ini.

Kehidupanku yang berantakan menelusuk pada semua sendi kehidupanku, mahar kuindahkan tanpa peduli dan tanpa sedikitpun nuansa tuk menghadapkan wajahku padanya, kutahu dan sesadarnya kesadaran menyiksaku terlebih pula menyiksa dirinya setelah kunisbahkan pada perempuan yang telah menolakku dan datang pula kepadaku menyatakan penyesalannya dalam mengambil keputusan. Aku benci kemunafikan, aku benci keputusan setengah-setengah, dan terlebih sebenci-bencinya terlalu banyak permohonan maaf tanpa diimbangi perbaikan kelakuan, dan aku benci wanitaku yang setengah-setengah. Kutahu sakit-menyakiti adalah rintihan ego manusia yang terluar dan pula terlahir dari interaksi Jiwa yang refresentasinya dari kepunyaanNya yang ditiupkan pada senantiasa manusia dengan jasadku refresentasi dari syetan-syetan yang terkutuk dan refresentasinya dari bongkahan tanah.

Apa peduliku pada masyarakat, sementara mereka hadir berjejal-jejal memenuhi kebenaran teori si Robert Malthus dan kekurangan lahan dan hanya sekedar memberi atap pada rumah huniannya, mungkin dengan sedikit pembenaran dan kekuatan legitimasi keindahan kota maka pembokaran sah dengan kekuatan mesin-mesin bulldozer dan kau cukupkan penderitaan mereka dengan dentuman karet-karet mentah pentungan satpol-satpol Pamong Praja biadab yang makan dari pajak-pajak orang-orang yang tergusur, dengan pula senyum sinis dan jijik kaucukupkan dengan pukulan dengan senyum kemenangan. Apa pula peduliku pada masyarakat yang katanya senasib sepenanggungan melihat pada mereka melekat kemerosotan moral yang sangat dalam, belum cukupkah kemiskinan dengan tipologi-tipologinya, kebodohan-kebodahan dan pembodohannya atas legitimasi regulasi atas komersialisasi pendidikan, dan apa pula peduliku denga rantai lingkaran setan yang menyebabkan kelaparan, gizi buruk ditanah subur yang jika ditanami tongkat akan tumbuh sebatang pohon kuat yang tumbuh menjulang tinggi.

Nampaknya Corgito ergo Zumnya si Descartes perlu diragukan juga ataukah dihilangkan saja, karena tidak berfungsinya menjadi pengantar mencapai kebenaran rasioanal, ataukah kebenaran empirikya si Plato. Karena masing-maisng dari kita perlu berfikir kalau kita memang ada dan eksis, dan sesungguhnya kalaupun kita ada dan eksis sesungguhnya hanya Homo Homini Lupus. Entah sebentar ataupun yang akan datang kebenaran teori ini tiada pula tersangsikan kebenaran akan maksudnya, karena gejala telah bermunculan dan dari hal yang sifatnya latensi kini bermunculan sebagai sesuatu yang aktual. Pembantaian atas manusia yang memiliki, kematian dimana-mana, pembunuhan atas nama pribadi, kelompok, atau golongan, bahhkan mutilasi hanya menjadi santapan sehari-haridi waktu fajar menyingsing hingga tenggelam dengan menawan di ufuk timur.

Akhirnya kumeratap dan tafakkur di hadapMu, dengan tangisan meringis memohon ampunan atas semuanya, entah pribadiku ataupun manusia-manusia lainnya, dan mungkin pula Engkau bingung mengabulkanNya dikarenakan dihadapan bermilyar-milyar jiwa jiwa yang menghuni bumi yang sedang menangis hanya sedikit diantaranya yang bangun dan berdoa.

Makassar, 31 Desember 2008

Pukul 23.55 WITA.


Categories