Masa Perkenalan Profesi (Mapersi) MISEKTA : Sejarah Kecil kebersamaan dan Geltitik Tawa Kebersamaan
“Biarkan dunia ini jungkir balik, terlipat dan berlari,
Biarkan tawa gelitik persaudaraan,
Biarkan canda mengusik kesedihan,
Biarkan perbedaan menjadi pondasi keberagaman,
BiarkamTuhan, alam, dan manusia menjadi saksi persaudaraan kita,
Biarkan cinta timbul diantara kebencian,
Biarkan kenangan menjadi pegangan abadiku,
Demi sebuah nama :MISEKTA“
(Anonym)
Bukan pekerjaan mudah menetaskan kader, bukan pula pekerjaan sia-sia membuang waktu mengurusi penkaderan, bukan hal sia-sia menghabiskan waktu menelusuri alam, mencari makna hidup (jati diri), dan kebesaran Yang Maha Kuasa dalam alam terbuka.
Tidak terasa Mapersi (Masa Perkenalan Profesi) kembali digelar, lokasi sulit penuh tanjakan dengan jalan berbatu, berliku, dan berlumpur. Adalah tantangan melakukan semua itu, melawan kemalasan, ketakutan, kemanjaan atas diri yang bernama badan. Adalah tantangan menuju kedewasan dengan membuka wawasan, membuka komunikasi, cakrawala fikir dan komunikasi dengan manusia lain yang bernama petani. Adalah tantangan mencari diri yang sebenarnya dengan mengakui keberadaan orang lain, mencoba toleransi dengan melawan ego, memahami diri yang bernama manusia.
Tondong kura Kab. Pangkep lokasi strategis yang menjadi bingkai kenangan baru tersebut. Jalan berbatu dan licin serta topografi nan jauh diatas permukaan laut. Alam tak jua bersahabat, dengan angin kencang disertai hujan cukup lebat untuk mengairi sawah. Bermodalkan ubi jalar, ubi kayu, jagung, srikaya, dan salak menjadi bekal (survival and back to nature kata kosternya), air keruh sisa pemupukan petani yang menjadi temannya. Sungguh itu tidaklah mengendorkan minat mengikuti dan melakukan penkaderan ini.(tetap saja CERIA !!!)
Suka Duka Mapersi
Gelitik tawa diatas bukit kering dan panas namun berubah lembab dan licin ketika cuaca berubah dengan keinginannya. Sebuah kelompok kecil datang mengucap salam “Assalamu Alaikum senior”, kami datang untuk memberikan hiburan Yel-Yell !!, yang kami siapkan jauh-jauh hari. Kami ikut mapersi sungguh sangat senang, ada Si kura-kura, Si kumis dan Si jenggot yang menuntun kami”(penggalan kalimat yang sempat dihafal).
Sungguh tidak pula sedikit makna yang mampu kutampung untuk bekal hidup, diatas bukit bersama-sama dengan manusia lain yang tak pernah kukenal asal-usulnya serta lingkungan dimana ia menetap. Sungguh benar pula kurasakan dunia ini sebuah panggung sandiwara, ada peran yang dimiliki masing-masing pelakunya : ada berperan pahlawan, pelawak, perawat, tukang masak, tukang ganggu, tukang pingsan, tukang kerasukan, dll. Sungguh perut tergelitik tuk tertawa namun alam tak menginginkan hal tersebut, adakah jiwa yang tidak tersungging senyum menyaksikan diatas bukit luas hamparan rumput, sawah yang berdempetan dengan jurang-jurang terjal melihat atas diri manusia mengenakan rambut pirang dengan bahasa sayangnya diselimuti kata-kata tabu diucapkan pada lingkungan masyarakat desa, adakah jiwa yang tidak sedih tergugah melihat tubuh terkulai lemas menggigil didalam sleeping bag mengenakan kacamata, adakah jiwa yang tidak merasa kasihan melihat tubuh memar akibat jatuh dalam saluran irigasi ketika hujan lebat ditinggalkan dalam lapangan karena masing-masing individu dengan egonya menyelamatkan diri masing-masing, adakah jiwa yang tidak tertawa terbahak-bahak melihat goyangan tubuh pria tangguh layaknya wanita penari balet yang menggoyangkan bibir tebalnya melukiskan alunan lagu, adakah jiwa yang tidak mencercah melihat perilaku manusia-manusia mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya, sungguh pula adakah jiwa yang tidak protes melihat manusia lain tidak berlaku adil menyiksa dengan pellonco push up didalam air mengalir dan menyuruhnya buang air kecil ditempat.
Alam terbuka sungguh membuka keaslian diri suatu individu, Mustofa mengatakan bahwa interaksi jasad yang representasinya adalah tanah dengan Ruh yang ditiupkan Tuhan akan melahirkan jiwa, dan dalam melakukan kegiatan apapun keputusannya akan berdasarkan pada kualitas dari jiwa itu sendiri. Ketika salah seorang diantara iring-iringan barisan peserta Mapersi terserang kaki keram dikarenakan dingin dan tidur dengan kaki terlipat malam sebelumnya, manusia dengan kesungguhan atau karena ada yang lain membuang beban berat dipundaknya berlari berlawanan arus dengan iring-iringan dan merelakan punggungnya tuk mengangkat korban dan mengotongnya dengan beban berat yang cukup.
Fenomena manusia memang aneh !!, adanya interaksi antara individu dan lingkungan perilaku manusia yang satu sungguh berbeda dengan manusia lainnya. Sebuah deringan telepon dirumah penduduk memecah kebekuan dan menambah kepanikan dikarenakan mobil yang akan mengangkut kita menuju Makassar tak kunjung datang, deringan telpon itu memacu darahku untuk tertawa karena sang penelpon mencari anak lelaki tangguh, ada pula yang mencari adik tersayangnya dan menitipkan tanggung jawab pada orang lain.(itulah gunanya teman, tidak pernah disayang-sayang tapi disusahkan terus menerus).
Disidangnya Sang Pemimpin
Max Weber pernah mengatakan bahwa “setiap individu ingin diakui keberadaannya dalam masyarakat”, dengan itu pula setiap manusia akan berusaha mengaktualkan potensinya guna diakui keberadaannya. Didepan sebuah tenda kaum tua (golongan tua), Sang pemimpin duduk mengisap dalam-dalam rokoknya (rokoknya mam U Mild) dan sesekali mengepulkannya, dan menyeruput kopi hangat dari nesting alumunium. Beralaskan Matrax yang membentuk lingkaran podium sidang, duduk melingkar beberapa kaum muda dengan wajah lapar (wajar kan makannya ubi, jagung, salak, dan srikaya), dan difasilitasi oleh Sang jago masak kaum tua. Soekarno juga pernah mengatakan “segala macam rasa berkumpullah dalam satu rasa, rasa bangga, rasa sayang, rasa hati, rasa penasaran, rasa kaku dsb.nya”, dan rasa itu pula yang dirasakan Sang pemimpin setelah terjebak dalam rasa canggung pada kaum tua dalam sidang yang memang di setting tanpa sepengetahuannya.(He..he… masih mauqo + ciddako)
Datangnya wanita berjilbab pink, yang sedikit memiliki lesung pipi yang pula menandakan kalau ia berbicara dalam sekian detik mampu mengucapakan 1000 kata tanpa jelas, titik, koma dan tanda baca lainnya, mungkin itu pula yang menjadi landasan kalau ia tidak masuk surga.(teman-temannya sih memanggilnya Ibu darma wanita). (Untuk kelanjutan ceritanya tanya sama yang bersangkutan……….)
Petuah Sang Ayah
Bimbo dalam sajak lagunya mengungkapkan ;
” ada anak bertanya pada bapaknya buat apa berlapar-lapar puasa,
ada anak bertanya pada bapaknya buat apa sembahyang mengaji,
dan ada anak bertanya pada bapaknya,
kenapa??
Kenapa ?? ada anak lebih tua dari bapaknya”.
(edisi revisi)
Duduk dikursi plastik hijau, mengenakan kacamata, training hijau dan jaket hijau berbahan katun. Dengan menatap nanar wajah-wajah muda didepannya, pandangannya melayang membayangkan masa mudanya. Beberapa saat kemudian memecah keheningan dengan memulai pembicaraan … ” anakku sekarang jenggotnya semakin panjang ya?” (sambil menunjuk pemuda berbaju orange dan mengenakan celana training andalannya dan berdiri dibawah gapura bambu yang pula menandakan kalau pernah ada acara pernikahan menurut adat Bugis).
Dia lalu bercerita tentang pemuda yang menggotong gadis muda berjilbab merah yang konon kakinya keram, akibat dingin menusuk tulang pada malam harinya yang air matanya terurai dan sesekali senyum memperlihatkan lubang kecil alami dipipinya yang dengan itu pula sepertinya menyayat hati. Dia lalu melanjutkan dengan pepatahya ;
“kubaca namun kulupa,
Dan kulakukan tiada pernah kulupakan”
Keluh Kesah Organizing Commitee
Malam ramah tamah adalah sebuah tanda atas petanda berakhirnya penderitaan atas makanan cepat saji ala Back to nature stering commitee. Wajah-wajah bermuram durja terbayar oleh wajah-wajah ceria atas berakhirnya Camp Nazi ala Hitler (Si Kumis). Namun ultimatumnya membuahkan kepanikan, angin kencang seakan menerbangkan tenda-tenda pengungsi, namun Si Kumis berkata ” ini baru angin belum hujan”, namun belum sampai kata-katanya dicerna aqal, hujan deraspun mengucur mengacaukan acara ramah tamah.
Theologi pembebasan menjelaskan bahwa semakin tertindas seseorang akan semakin mempercepat nilai kritis dan kesadarannya akan muncul, angin bertiup kencang disertai hujan cukup deras memaksa kondisi tubuh beradaptasi dengan mendatangkan perasaan lapar, namun bertentangan dengan perintah gerak untuk membuat sesuatu, ini mungkin bisa dibenarkan karena OC acara tiba-tiba memiliki sifat kritis dalam ketidaksadarannya dengan berkata “Bambang maukah engkau menikah denganku besok pagi?”, juga nilai kritis seseorang akan muncul ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan atas sebuah permintaan namun terlupakan, konsep-konsep games pos-pos mapersi diserahkan padanya, dan susah payah ia mempersiapkan dengan menyiapkan referensi-referensi dari internet, majalah, koran dsbnya dalam waktu yang cukup lama sampai-sampai demam dan bermimpi atas jalannya konsep yang diamanahkan padanya. Rasa pahit datang saat kecewa menghampiri, konsep games matang itu dimentahkan mentah-mentah oleh Si Kumis seorang diri dengan kebijakan Peraturan Mapersi nomor 001/febr/2008 tentang wewenang SC memberikan games kreativitas pada masing-masing posko.
Yang Kucari Belum Juga Kutemukan,
Sungguh berat pencarian yang bernama jati diri, sehingga terkadang dalam sepi jiwa ini meneriakkan “mengapa enak saja engkau duduk dikursi empukmu, sedangkan aku disini tidur beralaskan karpet basah?, Dan mengapa enak saja engkau duduk tepekur dikursi empukmu sedang dini hari aku masih saja bergelut dengan dinginnya malam?. Sungguh jiwa ini bergetar melihat dirimu tersenyum sambil berpaling engkau menyibakkan rambutmu yang tiada tersibak karena sedikit berombak dan tebal?, sunggguh jiwa ini menari dan menyayi ketika engkau menyapa dengan kata-kata yang belum pernah terdengar sebelumnya, dengan anggunmu mengenakan sweater merah yang sedikit tenggelam dibalik kerel besar itu, tapi hari ini mesti disadari engkau adalah barang sengketa tak berpemilik;
“Oh.. Tuhanku….
Engkau memang Maha Adil,
Mempertemukanku dengan orang yang tidak tepat,
Sebelum mempertemukanku dengan orang yang tepat
Tapi….
Aku protes !!, Tuhanku,
Mengapa dalam pengambilan gambar dengannya,
Engkau mendatangkan cobaan begitu berat,
Mengapa..??
Mengapa..?? Engkau mendatangkan Hama Wereng
Dalam pengambilan keabadian kamera Dygital, bersama dengannya“
Rumah-Rumah Tak Dikenal
Manusia Desa memang aneh, dalam bukunya yang berjudul membangun dari Desa, Robert Chambert mengatakan ” manusia desa adalah paling adaftif dalam kepekaan sosial, mudah menerima trasformasi sosial”. Melihat sekelompok manusia dilapangan sepakbola yang bercampur dengan kuda-kuda peliharaan mereka, merekapun menawarkan rumahnya sebagai tempat menginap yang kemudian dibagi berdasarkan Gugus Besar (GB) atas perintah Kordlap yang diplay stationkan oleh yang tertinggi jabatannya dalam kepanitiaan Mapersi XV.
Dengan nilai-nilai moraal yang dimiliki memberikan makan pada masing-masing pengungsi yang tidak tanggung-tanggung, karena pada dasarnya mereka memegang prinsip “biar tidak ada bahan dalam rumah, saya akan berusaha lewat pintu belakang meminjam bahan yang dibutuhkan, dibandingkan membuat lapar tamu yang berkunjung kerumahku”.
Secara prinsipil mereka terbangun dengan dilandasi moral yang kuat, namun yang mereka dapatkan adalah perilaku aneh pengungsi yang memang penkaderannya tidak tuntas (belumpi proses renungan jadi mental dan sikapnya masih aneh, btw tanggung jawabko koster.. he..he..), pada dasarnya warga setempat tidur paling lambat mugkin jam 22.00 tapi para pendatang/pengungsi membuat acara ribut-ribut sampai dini hari, para pengungsi tidak peka melihat anak bayi usia tiga bulan terganggu saat bercanda sampai larut malam diteras, ada juga yang main domino sampai membanting kartunya sampai kedengaran tetangga.
Sampai Jumpa di Makassar
Sebuah proses pasti akan berakhir dan akan berlanjut pada tahapan yang lain, namun harapan kebersamaan yang dilegitimasi persaudaraan dan persatuan tidak akan pernah berakhir, yakin saja siapapun tidak akan pernah merusak tatanan yang ada dalam Misekta. Tidak juga kau, kau, dan kau ataupun saya, tidak akan terjual hanya dengan asumsi kepentingan sesaat (apakah kondisinya pemilihan BEM, bupati, walikota, gubernur ataupun yang lainnya).
Masih terngiang ditelinga penggalan lagu yang sering dilantukan oleh seorang pujangga bersayap intelektual yang kini telah beralih profesi didepan negara Misekta ;
Esoknya siang itu,
Harus terjadi
Udara tak sedap sesakkan memori
Dindingpun membisu
Dan semua siap berlalu
Datangnya keakraban disimpang perpisahan
Dikala mata terbentuk dan menjadi hujan
Menambah merelakan tuk berpisah
Berat kata sampai jumpa
Namun semua itu adalah kejadian yang wajar
Semua tiada pernahkan terulang
Hanya terlintas khayalan
Namun semua itu kejadian yang wajar
Diantara kita
Tak pernah merasakan
Keakraban sampai berpisah
Kau katakan
Jangan lupakan…..
Jangan lupakan aku
Berpeganglah….
Berpeganglah tangan
(acong 2000)
Adalah sebuah kenyataan dari harapan kalian loyal bekerja, berkreasi, berimprovisasi guna mengembangkan organisasi tercinta Misekta. Dan merupakan sebuah tanggungjawab besar atas sumpah mahasiswa yang dilantunkan atas Sang Khalik dan merupakan sebuah konsekuensi logis atas penginkaran terhadap-Nya.
(Nyanyian Jiwa Perindu Kebersamaan)
Makassar, 01 Maret 2008


apakabar blog ini???
lama gak berkunjung..
By: fickry on Sunday, December 7, 2008
at 7:28 pm
Re fickry:
Alhamdullillah baek aja kok….
blohnya berantakan cz lg urus kuliah (pengen sarjana)..
td juga aku kunjungin blog mas fickry,keren yah,
gimana tuh bs sampe segitu??
thanks..
By: asriyanto on Wednesday, December 10, 2008
at 7:30 pm